Mengenai Saya

Foto saya
Halo, kalau kalian mau berteman denganku lewat FACEBOOK, cari saja Teresa Aryawinata atau Roswita Teresa Aryawinata!

Kamis, 08 November 2012

MOLLCEY




Marcy, begitulah semua orang memanggilnya.

“Marcy, kamu tahu apa maksud dari (-18) x n= (-39) - (-37)?” tanya Cyra.
            “Oh, ini, pertama, kamu hitung bagian ini dan bla ... bla ... bla ...” jelas Marcy sambil tersenyum.
            “Marcy, ayo kita ke kantin bareng!” ajak Anna, tiba-tiba Ms. Tyffa masuk untuk membagikan UTS.
“Kali ini, ranking 1 tetap diraih oleh Marcy Macchyasslie.” kata Ms. Tyffa mengumumkan, Marcy tersenyum gembira mendengar hal itu, Senin besok, pasti dia akan mendapat piala kelima, ups, tentu saja, dari kelas 1 sampai kelas 5, dia selalu meraih peringkat pertama.
Tak terasa, seorang murid yang bernama Allcey menatap Marcy dengan tatapan dingin dan tajam, dia adalah murid baru yang terdengar begitu menakutkan, kulitnya putih pucat, rambutnya hitam panjang dan poninya hampir menutupi wajahnya.
            “Marcy, ayo kita ke kantin!” ajak Anna lagi.
            “Oh, ayo!! Aku sudah bawa bekal, tentu bekalku adalah sandwich kentang goreng!”ujar Marcy berjalan ke kantin sambil membawa sebuah kotak bekal.
“Marcy!! Lihat, buku diary-ku bernama /-\|\||\|/-\ |\|EY|_S/-\SSY.” kata Anna sambil menunjukkan sebuah buku.
 “Ya, Anna ... Hmm ... Aku merasa pusing, aku mau ke UKS dulu ya.” ucap Marcy lemas dengan kepala yang terasa pusing.
“Ms. Lollie, izinkan aku tidur di UKS, aku merasa pusing.” keluh Marcy.
“Silahkan tidur, Marcy, kamu telah berjuang pada UTS ini.” puji Ms. Lollie.
 “Terima kasih.”
Marcy berjalan lemas ke arah ranjang ke-14, tidak terasa, dia telah berada di dunia mimpi yang begitu aneh, semua berkata “MOLLCEY” yang artinya tidak diketahui Marcy, namun kemudian Marcy terbangun.
“Mollcey ...” gumam Marcy.
  Suasana UKS begitu hening, tidak ada Ms. Lollie, apa sekarang sudah waktunya pulang sekolah? Mengapa dia ditinggalkan begitu saja?.
“Mmmh ...” keluh Marcy, ketakutan telah membuatnya berpikiran negatif, dia pergi ke lantai atas untuk melihat kelasnya. Sama seperti UKS, suasana kelas hening dan tidak ada orang disitu ... AH! Tidak, ada ... Allcey, ya, Allcey sendirian duduk di bangku paling pojok.
Ada apa sebenarnya? Mengapa hanya Allcey yang berada di sekolah ini? Dunia terlihat hening, batin Marcy duduk di bangkunya, ternyata kertas UTS telah dibagikan, anehnya, di setiap lembar ulangan Marcey, tertulis “MOLLCEY” dengan ukuran begitu besar.
“Allcey? Kamu sendirian?” tanya Marcy. Tiba-tiba Allcey menatapnya tajam dan mulai berjalan kearahnya.
“Allcey … Tolong jangan main-main!!” seru Marcy ketakutan, dan sampai akhirnya Allcey sudah berada di depan Marcy dan … “ALLCEY!!!!!!!”
Gelap, semuanya gelap dan tiba-tiba terang.
Aku dimana?, batin Marcy membuka mata, dia berada di sekolahnya, tepatnya di kelasnya, ada Allcey dan teman-temannya, tertawa bersama-sama, namun anehnya, Allcey dipanggil “MOLLCEY” oleh teman-temannya.
“Mollcey! Kita tes kecerdasan, yuk!” ajak Noanny, teman Allcey.
“Siapa takut!” tantang Allcey, dan akhirnya Allcey-lah yang menang, Noanny menatap Allcey dengan tatapan sinis, akhirnya waktunya pulang, Allcey dan Noanny pulang terlambat karena tugas piket.
Kenapa aku tidak bisa berbicara?!, teriak Marcy di dalam hati.
“Mollcey …” gumam Noanny.
“Ya, Noanny?” tanya Allcey.
“KAMU PENGGANGGU!!!” teriak Noanny sambil mendorong Allcey ke lantai.
“No … Noanny …!!!” kata Allcey ketakutan.
“Kamu selalu menggangguku setiap aku mulai berhasil menjadi TERCERDAS!!!” teriak Noanny lagi sambil memukul kepala Allcey, ALLCEY … MENINGGAL?!?!?!.
“Moll … Mollcey …” ujar Noanny ketakutan, tangannya bergetar begitu kencang, mayat Allcey dikubur begitu saja di taman belakang kelas.
Allcey …, batin Marcy sedih. Marcy kembali ke kelas dan di depannya tetap berada Allcey, saking sedihnya, tanpa sadar, Marcy memeluk Allcey begitu erat, air menetes di bahu Marcy, apa Allcey menangis? Tidak peduli apapun, Marcy begitu sedih karena dia tahu penderitaan yang diterima Allcey dan Allcey pasti akan menghilang.
“Kenapa … Kenapa kamu menceritakannya padaku?” isak Marcy, Allcey tidak menjawab, namun air mata Allcey benar-benar terasa.
“MOLLCEY!!!” teriak Marcy terbangun.
“Marcey? Ada apa?” tanya Ms. Lollie. Semua telah kembali seperti semula.
“A … Apa Allcey masih ada?” tanya Marcy.
“Allcey? Allcey siapa?” tanya Ms. Lollie, berarti tebakan Marcy benar, Allcey menghilang.
“Daritadi aku dan Mallcey menunggumu!” keluh Anna.
“Mallcey?” gumam Marcy, pasti gabungan dari nama Mollcey dan Allcey. Mallcey adalah generasi ketiga dari Mollcey dan Allcey, namun mereka tetap sama.
“Hmm … Yeah … Ayo kembali ke kelas, Anna!!”
“Marcy!! Kamu lama sekali!!” keluh Mallcey.
“Maaf, Mallcey, tadi aku sempat bermimpi tentang Mollcey dan Allcey.” ujar Marcy berterus terang.
“Mollcey? Allcey? Namanya mirip sekali dengan namaku, hmm … tapi tak apa, hanya mimpi, ayo ke kantin!!” kata Mallcey.
“AYO!!” ajak Marcy pada kedua sahabatnya.
---EnD---









EPILOG
 

”Peringatan kematian Mollcey kesebelas ya …,” Noanny berujar, kini, dia telah berumur 18 tahun, kejadian itu sudah 7 tahun lamanya.

            “Noanny …,” panggil seseorang, Noanny menoleh, tidak ada orang di kuburan Mollcey kecuali dirinya.
            “Noanny, aku disini …,”. Suara lirih itu semakin membuat Noanny ketakutan, suara itu memancarkan perasaan kecewa, sedikit marah, memaafkan, dan putus asa.
            “Mol … Mollcey?” ucap Noanny bingung.
            “Ya? Jangan takut.” jawab seseorang, ketika menoleh ke arah ufuk barat, matahari telah terbenam, keadaan sama seperti 7 tahun yang lalu, tanpa disangka-sangka, seorang gadis berseragam putih dan hijau dinodai darah berada di ufuk barat, tempat Mollcey meninggal dunia.
            “J … Jangan kotori kuburan sahabatku!!” teriak Noanny melihat gadis itu mengacak-ngacak tumpukan tanah. Gadis itu berjalan mendekati Noanny.
            “JANGAN KOTORI TEMPAT INI!!!” teriak Noanny sambil menangis, ia terkenang dengan kesalahannya 7 tahun yang lalu. Gadis itu telah berada di depan Noanny.
            “K … Kamu Mollcey? Mollcey Myeccetha?” tanya Noanny bingung, dia mulai menghapus air matanya.
            “Noanny … Noanny Nellfyterricce.” ujar gadis yang dianggap Noanny adalah Mollcey.
            “Apa?” tanya Noanny lagi.
            “Kamu sudah membunuh temanmu kan? Karena rasa iri yang tak dapat kau kalahkan, dan akhirnya dia terbunuh kan!?” teriak gadis itu dengan wajah menakutkan.
            “Apa kamu arwah?” tanya Noanny menghapus air matanya yang telah bergulir lagi.
            “…”
            “Kalau kamu arwah, bisakah kamu sampaikan permintaan maafku pada Mollcey? Aku sangat menyesal.” air mata Noanny kembali bergulir.
            “Aku bukan arwah …, namun aku sahabat Mollcey,” ujar gadis itu melepas bajunya, ternyata gadis itu memakai 2 pakaian, satu seragam dan satu lagi baju biasa.
            “Namun, kamu dapat menyampaikan permintaan maafmu pada Mollcey sekarang, kemarilah, Mollcey.” lanjut gadis itu. “aku Marcy.”
            “Noanny.”
            “Mollcey, jangan membuatnya menunggu,” keluh Marcy.
            Dari taman ufuk barat, sebuah roh datang dan berwujud Mollcey.
            “MOLLCEY!!!” teriak Noanny memeluk Mollcey.
            “Noanny, kata sahabatku, Marcy, kamu ingin mengatakan sesuatu, cepatlah, sebentar lagi matahari akan terbit, dan waktuku habis.” jelas Mollcey lembut.
            “AKU MINTA MAAF!!!!!!” teriak Noanny lagi sambil menangis.
            “Aku sudah memaafkanmu, namun, bisakah kamu mengabulkan permintaanku?” tanya Mollcey.
            “Ya, ya, tentu saja!” jawab Noanny.
            “Tolong pindahkan kuburanku ke tempat yang lebih pantas, aku selalu sendirian disini, aku selalu kesepian, mungkin di kuburan sana aku lebih tenang.” jelas Mollcey samar-samar, wujud tubuhnya semakin menghilang.
            “MOLLCEY!!!” teriak Noanny dengan air mata yang bergulir.
            “Sudahlah, jangan menangis, kabulkanlah permintaan terakhirnya, Kak.” ucap Marcy menguatkan Noanny yang lagi-lagi menangis.
            “Hiks, kamu benar, Marcy, tetapi kenapa kamu bisa tahu kejadian yang menimpanya?” tanya Noanny.
            “Aku mirip sekali dengan Kak Mollcey, aku diantar ke masa lalunya,” jawab Marcy dengan sabar.
            “Baiklah, aku harus meluluskan permintaan terakhjrnya!! Telepon 135.” ucap Noanny sambil menelpon kantor polisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar